Tugas Bahasa Indonesia Bulan pertama
Tugas
Bahasa Indonesia 2
Bulan
Pertama
Disusun oleh
Nama : Reni Setia Purtanti
NPM : 17113405
Kelas : 3KA18
FAKULTAS ILMU KOMPUTER
JURUSAN SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
PENALARAN
Penalaran adalah proses berpikir yang
bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang
menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang
sejenis juga akan terbentuk proposisi - proposisi yang sejenis,
berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang
menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses
inilah yang disebut menalar.
Proposisi dapat dibedakan menjadi
dua jenis, yakni proposisi empiric dan proposisi
mutlak. Proposisi empirik adalah pernyataan yang dapat
diverifikasi secara empirik. Sedangkan Proposisi mutlak adalah
proposisi yang jelas dengan sendirinya sehingga tidak perlu dibuktikan secara
empiris.
Inferensi
Inferensi
adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam
membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna
tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan
(eksplikatur). Untuk menarik sebuah kesimpulan (inferensi) perlu kita
mengetahui jenis-jenis inferensi, antara lain:
1. Inferensi
Langsung
Inferensi yang kesimpulannya
ditarik dari hanya satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan
kesimpulan). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
Contoh:
“Bu,
besok temanku berulang tahun. Saya diundang makan malam. Tapi saya tidak punya baju
baru, kadonya lagi belum ada”.
Maka inferensi dari ungkapan
tersebut: bahwa tidak bisa pergi ke
ulang tahun temanya.
Contoh:
“Pohon
yang di tanam pak Budi setahun lalu hidup”. dari premis
tersebut dapat kita lansung menari kesimpulan (inferensi) bahwa: pohon yang ditanam pak budi setahun yang
lalu tidak mati.
2. Inferensi
Tak Langsung
Inferensi yang kesimpulannya
ditarik dari dua / lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi
baru atas dasar penggabungan proposisi-preposisi lama.
Contoh:
A
: Anak-anak begitu gembira ketika ibu memberikan bekal makanan.
B
: Sayang gudegnya agak sedikit saya bawa.
Inferensi yang menjembatani kedua
ujaran tersebut misalnya (C) berikut ini.
C : Bekal yang dibawa ibu lauknya gudek komplit.
C : Bekal yang dibawa ibu lauknya gudek komplit.
Contoh yang lain:
A
: Saya melihat ke dalam kamar itu.
B
: Plafonnya sangat tinggi.
Sebagai missing link diberikan
inferensi, misalnya:
C:
kamar itu memiliki plafon
Implikasi
Implikasi
berfungsi membandingkan antara hasil penelitian yang lalu dengan hasil
penelitian yang baru dilakukan.
Macam-macam
implikasi:
1. Implikasi
Teoritis
Pada
bagian ini peneliti menyajikan gambar lengkap mengenai implikasi teoretikal
dari penelitian ini.Bagian ini bertujuan untuk meyakinkan penguji pada mengenai
kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dalam teori-teori yang digunakan untuk
memecahkan masalah penelitian, tetapi juga implikasinya bagi teori-teori yang
relevan dengan bidang kajian utama yang disajikan dalam model teoretis.
2. Implikasi
Manajerial
Pada
bagian ini peneliti menyajian bergagai implikasi kebijakan yang dapat
dihubungkan dengan temuan-temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini.Implikasi
manajerial memberikan kontribusi praksis bagi manajemen.
3. Implikasi
Metodologi
Bagian
ini bersifat opsional dan menyajikan refleksi penulis mengenai metodologi yang
digunakan dalam penelitiannya.Misalnya pada bagian ini dapat disajikan penjelasan mengenai bagian-bagian metode penelitian mana yang
telah dilakukan dengan sangat baik dan bagian mana yang relatif sulit serta
prosedur mana yang telah dikembangkan untuk mengatasi berbagai kesulitan itu
yang sebetulnya tidak digambarkan sebelumnya dalam literatur mengenai metode
penelitian. Peneliti dapat menyajikan dalam bagian ini pendekatan-pendekatan
yang dapat digunakan dalam penelitian lanjutan atau penelitian lainnya untuk
memudahkan atau untuk meningkatkan mutu dari penelitian.
Wujud Evidensi
Semua
fakta yang ada, dan dapat dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kejadian.
Evidensi juga sering disebut sebangai bukti empiris.
Cara Menguji Data
Data
adalah deskripsi dari suatu kejadian yang menghasilkan suatu kesimpulan dalam
menarik suatu keputusan.
Beberapa
cara yang digunakan untuk pengujian data :
1) Observasi
2) Kesaksian
3) Autorisasi
Cara Menguji Fakta
Fakta
adalah data yang terbukti dan telah menjdi suatu kenyataan.
Cara
menguji apakah data yang di dapat merupakan fakta, maka harus diadakan
penilaian. Dari penilaian tersebut maka dapat dilanjutkan lagi dengan
menggunakan fakta tersebut sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan
diambil.
Cara Menilai Autorisasi
Untuk
menilai suatu autoritas, dapat memilih beberapa pokok berikut :
a. Tidak
Mengandung Prasangka
b. Pengalam
dan Pendidikan Autoritas
c. Kemashuran
dan Presite
d. Khorensi
Dengan Kemajuan
Berpikir Deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode
berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya
dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh:
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah
kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang
menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status
sosial.
Jenis
– jenis silogisme
Berdasarkan
bentuknya, silogisme terdiri dari;
1. Silogisme
Kategorial
Silogisme
kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial.
Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat
dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan
premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di
antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh:
Semua
tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
Akasia adalah
tumbuhan (premis minor).
Akasia membutuhkan
air (Konklusi).
Hukum-hukum Silogisme Katagorik
Apabila
salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus partikular juga.
Contoh:
v Semua
yang halal dimakan menyehatkan (mayor).
v Sebagian
makanan tidak menyehatkan (minor).
v Sebagian
makanan tidak halal dimakan (konklusi).
Apabila
salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga.
Contoh:
v Semua korupsi tidak
disenangi (mayor).
v Sebagian
pejabat korupsi (minor).
v Sebagian
pejabat tidak disenangi (konklusi).
Apabila
kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan.
Contoh:
v Beberapa politikus tidak
jujur (premis 1).
v Bambang
adalah politikus (premis 2).
Kedua
premis tersebut tidak bisa disimpulkan. Jika dibuat kesimpulan, maka
kesimpulannya hanya bersifat kemungkinan (bukan kepastian). Bambang mungkin
tidak jujur (konklusi).
Apabila
kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini
dikarenakan tidak ada mata rantai yang menhhubungkan kedua proposisi premisnya.
Kesimpulan dapat diambil jika salah satu premisnya positif.
Contoh:
v Kerbau bukan
bunga mawar (premis 1).
v Kucing bukan
bunga mawar (premis 2).
Kedua
premis tersebut tidak mempunyai kesimpulan
·
Apabila term penengah dari suatu premis
tidak tentu, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Contoh; semua ikan
berdarah dingin. Binatang ini berdarah dingin. Maka, binatang ini adalah ikan?
Mungkin saja binatang melata.
·
Term-predikat dalam kesimpulan harus
konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Apabila tidak konsisten,
maka kesimpulannya akan salah.
Contoh:
v Kerbau adalah
binatang.(premis 1)
v Kambing bukan
kerbau.(premis 2)
Ø Kambing
bukan binatang ?
Binatang
pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis 1 bersifat positif
·
Term penengah harus bermakna sama, baik
dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda
kesimpulan menjadi lain.
Contoh:
v Bulan
itu bersinar di langit.(mayor)
v Januari adalah
bulan.(minor)
Ø Januari
bersinar dilangit?
Silogisme
harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, predikat, dan term, tidak bisa
diturunkan konklsinya.
Contoh:
v Kucing
adalah binatang.(premis 1)
v Domba
adalah binatang.(premis 2)
v Beringin
adalah tumbuhan.(premis3)
v Sawo
adalah tumbuhan.(premis4)
Dari
premis tersebut tidak dapat diturunkan kesimpulannya
2.
Silogisme
Hipotetik
Silogisme
hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik,
sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. Ada 4 (empat) macam tipe
silogisme hipotetik:
·
Silogisme hipotetik yang premis minornya
mengakui bagian antecedent.
Contoh:
v Jika
hujan saya naik becak.(mayor)
v Sekarang
hujan.(minor)
v Saya
naik becak (konklusi).
·
Silogisme hipotetik yang premis minornya
mengakui bagian konsekuennya.
Contoh:
v Jika hujan,
bumi akan basah (mayor).
v Sekarang
bumi telah basah (minor).
v Hujan
telah turun (konklusi)
·
Silogisme hipotetik yang premis minornya
mengingkari antecedent.
Contoh:
v Jika
politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
v Politik
pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa.
v Kegelisahan
tidak akan timbul.
·
Silogisme hipotetik yang premis minornya
mengingkari bagian konsekuennya.
Contoh:
v Bila
mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah.
v Pihak
penguasa tidak gelisah.
v Mahasiswa
tidak turun ke jalanan.
Hukum-hukum
Silogisme Hipotetik Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih
mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting menentukan
kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, maka hukum
silogisme hipotetik adalah:
o
Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
o
Bila A tidak terlaksana maka B tidak
terlaksana. (tidak sah = salah)
o
Bila B terlaksana, maka A terlaksana.
(tidak sah = salah)
o
Bila B tidak terlaksana maka A tidak
terlaksana.
3. Silogisme Alternatif
Silogisme
alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah
satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
v Nenek
Sumi berada di Bandung atau Bogor.
v Nenek
Sumi berada di Bandung.
v Jadi,
Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
Entimen
Silogisme
ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun
lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan. Contoh entimen:
·
Dia menerima hadiah pertama karena dia
telah menang dalam sayembara itu.
·
Anda telah memenangkan sayembara ini,
karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.
Bepikir Induktif
Paragraf
Induktif adalah paragraf yang diawali dengan menjelaskan
permasalahan-permasalahan khusus (mengandung pembuktian dan contoh-contoh fakta)
yang diakhiri dengan kesimpulan yang berupa pernyataan umum. Paragraf Induktis
sendiri dikembangkan menjadi beberapa jenis. Pengembangan tersebut yakni
paragraf generalisasi, paragraf analogi, paragraf sebab akibat bisa
juga akibat sebab.
Contoh
paragraf Induktif:
Pada
saat ini remaja lebih menyukai tari-tarian dari barat seperti breakdance,
Shuffle, salsa (dan Kripton), modern dance dan lain sebagainya.
Begitupula dengan jenis musik umumnya mereka menyukai rock, blues, jazz, maupun
reff tarian dan kesenian tradisional mulai ditinggalkan dan beralih
mengikuti tren barat. Penerimaan terhadap bahaya luar yang masuk tidak disertai
dengan pelestarian budaya sendiri. Kesenian dan budaya luar perlahan-lahan
menggeser kesenian dan budaya tradisional.
Contoh
generalisasi:
v Jika
ada udara, manusia akan hidup.
v Jika
ada udara, hewan akan hidup.
v Jika
ada udara, tumbuhan akan hidup.
∴ Jika ada udara mahkluk
hidup akan hidup.
Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran
yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus untuk diambil kesimpulan yang
bersifat umum. Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua
atau sebagian besar gejala yang diamati.
Generalisasi mencakup ciri-ciri
esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan
dengan fakta, contoh, data statistik, dan lain-lain. Generalisasi juga di sebut
induksi tidak sempurna ( lengkap ). Guna menghindari generalisasi yang terburu
– buru, Aristoteles berpendapat bahwa bentuk induksi semacam ini harus di
dasarkan pada pemeriksaan atas seluruh fakta yang berhubungan, tapi semacam ini
jarang di capai. Jadi kita harus mencari jalan yang lebih prakis guna membuat
generalisasi yang sah.
Tiga
cara pengujian untuk menentukan generalisasi:
·
Menambah jumlah kasus yang di uji, juga
dapat menambah probabilitas sehatnya generalisasi. Maka harus seksama dan
kritis untuk menentukan apakah generalisasi ( mencapai probabilitas ).
·
Hendaknya melihat adakah sample yang di
selidiki cukup representatif mewakili kelompok yang di periksa.
·
Apabila ada kekecualian, apakah juga di
perhitungkan dan di perhatikan dalam membuat dan melancarkan generalisasi?
Hipotese dan Teori
Generalisasi dan hipotese memiliki
sifat yang tumpang tindih, namun membedakan kedua istilah tersebut sangat
perlu. Hipotese (hypo ‘di bawah’, tithenai ‘menempatkan’) adalah semacam teori
atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta
tertentu sebagai penuntun dalam meneliti fakta-fakta lain lebih lanjut. Dan
sebaliknya, teori sebenarnya merupakan hipotese yang secara relatif lebih kuat
sifatnya bila dibandingkan dengan hipotese.
Teori adalah azas-azas yang umum dan
abstrak yang diterima secara ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat dipercaya
untuk menerangkan fenomena-fenomena yang ada. Sedangkan hipotese merupakan suatu
dugaan yang bersifat sementara mengenai sebab-sebab atau relasi antara
fenomena-fenomena, sedangkan teori merupakan hipotese yang telah diuji dan yang
dapat diterapkan pada fenomena-fenomena yang releven atau sejenis.
Untuk merumuskan hipotesa yang baik perhatikan ketentuan berikut:
Untuk merumuskan hipotesa yang baik perhatikan ketentuan berikut:
1. Memperhitungkan
semua evidensi yang ada
2. Bila
tidak ada alasan lain, maka antara dua hipotesa yang mungkin diturunkan, lebih
baik memilih hipotesa yang sederhanan daripada yang rumit.
3. Sebuah
hipotese tidak pernah terpisah dari semua pengetahuan dan pengalaman manusia
4. Hipotese
buka hanya menjelaskan fakta-fakta yang membentuknya,tetapi harus menjelaskan
fakta-faktasejenis yang belum diselidiki.
Analogi
Analogi adalah penalaran yang membandingkan dua hal
yang memiliki banyak persamaan sifat. Cara ini didasarkan asumsi bahwa jika
sudah ada persamaan dalam berbagai segi, maka akan ada persamaan pula dalam bidang/hal
lainnya.
Contoh:
Sartono sembuh dari pusing kepalanya karena minum
obat ini.
Pengetahuan secara analogis adalah suatu metode yang
menjelaskan barang – barang yang tidak biasa dengan istilah - istilah yang di
kenal ide – ide baru bisa di kenal atau dapat di terima apabila di hubungkan
dengan hal – hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
Analogi Induktif adalah suatu cara berfikir yang di dasarkan pada persamaan yang nyata dan terbukti. Jika memiliki suatu kesamaan dari yang penting, maka dapat di simpulkan serupa dalam beberapa karakteristik lainnya.
Analogi Induktif adalah suatu cara berfikir yang di dasarkan pada persamaan yang nyata dan terbukti. Jika memiliki suatu kesamaan dari yang penting, maka dapat di simpulkan serupa dalam beberapa karakteristik lainnya.
Apabila hanya terdapat persamaan kebetulan dan
perbandingan untuk sekedar penjelasan, maka kita tidak dapat membuat suatu
kesimpulan.
seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan
mendaki gunung. Sewaktu mendaki, ada saja rintangan seperti jalan yang licin
yang membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar
dilalui. Dapatkah seseorang melaluinya? Begitu pula bila menuntut ilmu,
seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan
memahami pelajaran, dan sebagainya. Apakah Dia sanggup melaluinya? Jadi,
menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung untuk mencapai puncaknya.
Hubungan kausal
Adalah
penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang memiliki pola hubungan sebab
akibat. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita
temukan. Hujan turun dan jalan-jalan becek. Ia kena penyakit kanker darah dan
meninggal dunia. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini,
terdapat tiga pola hubungan kausalitas. Yaitu sebagai berikut:
Sebab-Akibat
Sebab-akibat
ini berpola A menyebabkan B. Disamping itu, hubungan ini dapat pula berpola A
menyebabkan B, C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang
dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.
Dalam
kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukan kemampuan penalaran seseorang
untuk mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu penyebab
yang tidak jelas terhadap sebuah akibat yang nyata. Kalau kita melihat sebiji
buah mangga terjatuh dari batangnya, kita akan memperkirakan beberapa
kemungkinan penyebabnya. Mungkin mangga itu ditimpa hujan, mungkin dihempas
angin, dan mungkin pula dilempari anak-anak. Pastilah salah satu kemungkinana
itu yang menjadi penyebabnya.
Akibat-Sebab
Dalam
pola ini kita memulai dengan peristiwa yang menjadi akibat. Peristiwa itu
kemudian kita analisis untuk dicari penyebabnya.
Contoh
: Kemarin
pak maman tidak masuk kantor. Hari inipun tidak. Pagi tadi istrinya
pergi ke apotek membeli obat. Oleh karena itu, pasti Pak Maman sedang sakit.
Sebab Akibat -1 Akibat -2
Suatu
penyebab dapat menyebabkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi
sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianaalah seterusnya, hingga timbul
arangkaian beberapa akibat.
Contoh:
Mulai
bulan mei 2012, harga beberapa jenis BBM direncanakan akan mengalami kenaikan.
Terutama premium dan solar. Hal ini karena pemerintah ingin mengurangi subsidi
dengan harapan supaya ekonomi Indonesia kembali berlangsung normal. Dikarenakan
harga bahan bakar naik, sudah barang tentu biaya angkutan pun akan naik pula.
Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti ikutn naik. Naiknya harga barang
akan dirasakan berat oleh masyarakat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang
harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
Induksi dalam metode eksposisi
Eksposisi
adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana
isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian
dengangaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
·
Langkah menyusun eksposisi:
·
Menentukan topik/tema
·
Menetapkan tujuan
·
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
·
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan
topik yang dipilih
·
Mengembangkan kerangka menjadi karangan
eksposisi.
Kesimpulan
Dari
penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa ada 2 macam cara befikir yaitu
secara Deduktif dan Induktif.
Berpikir
Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih
dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Berpikir Induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Berpikir Induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Referensi
:

Komentar
Posting Komentar